|
Misi Kristen dan Budaya Jawa |
|
|
|
DISKUSI Sabtuan INSISTS, Sabtu, 24 Juli 2010 lalu membahas tema “Kristenisasasi dan Budaya Jawa”. Berbicara dalam acara itu adalah Susiyanto, peserta Program Kaderisasi Ulama Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia di Program Magister Pemikiran Islam—Universitas Muhammadiyah Surakarta. Dalam diskusi, ia sekaligus meluncurkan buku terbarunya yang berjudul Strategi Misi Kristen Memisahkan Islam dan Jawa (2010).
Saat membahas tentang Perayaan Natal Bersama, kita sudah menyinggung tentang strategi budaya dalam penyabaran misi Kristen di Indonesia. Strategi budaya ini tampaknya digunakan untuk menggusur citra yang melekat pada bangsa Indonesia bahwa Kristen adalah agama penjajah. Kaum misionaris Kristen pun berusaha memisahkan antara keislaman dan keindonesiaan. Salah satu contoh adalah upaya mereka untuk mencegah penggunaan bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan Indonesia. J.D. Wolterbeek dalam bukunya, Babad Zending di Pulau Jawa, mengatakan: “Bahasa Melayu yang erat hubungannya dengan Islam merupakan suatu bahaya besar untuk orang Kristen Jawa yang mencintai Tuhannya dan juga bangsanya.”
|
|
Selanjutnya...
|
|
Jangan Lupa Tujuan Pendidikan |
|
|
|
PADA Hari Senin (12/7/2010), anak-anak sekolah kembali ke bangku sekolah, setelah menjalani libur panjang. Sebagian mereka adalah murid-murid yang menapaki jenjang pendidikan baru. Sebagian lain, hanya menjalani kenaikan kelas. Dalam situasi seperti ini, meskipun sudah pernah kita singgung sebelumnya, ada baiknya, kita semua – terutama orang tua dan guru – benar-benar menyadari apa tujuan sebenarnya dari sebuah proses pendidikan menurut pandangan Islam.
Prof. Syed Muhammad Naquib al-Attas, dalam bukunya, Islam and Secularism, (Kuala Lumpur, ISTAC, 1993), merumuskan bahwa tujuan pendidikan adalah untuk menghasilkan orang yang baik (to produce a good man). Kata al-Attas, “The aim of education in Islam is therefore to produce a goodman… the fundamental element inherent in the Islamic concept of education is the inculcation of adab.” (hal. 150-151).
Siapakah manusia yang baik atau manusia beradab itu? Dalam pandangan Islam, manusia seperti ini adalah manusia yang kenal akan Tuhannya, tahu akan dirinya, menjadikan Nabi Muhammad saw sebagai uswah hasanah, mengikuti jalan pewaris Nabi (ulama), dan berbagai kriteria manusia yang baik lainnya. Manusia yang baik juga harus memahami potensi dirinya dan bisa mengembangkan potensinya, sebab potensi itu adalah amanah dari Allah SWT.
|
|
Selanjutnya...
|
|
Buku Baru DR. Adian Husaini |
|
|
|
|
Judul buku: Pendidikan Islam: Membangun Manusia Berkarakter dan Beradab Penulis: Dr. Adian Husaini Penerbit: Program Pendidikan Islam -- Program Pasca Sarjana Universitas Ibn Khaldun Bogor bekerjasama dengan Cakrawala Publishing Jakarta Tebal dan Ukuran: xxvi + 188 hlm.; 14 x 21 cm
Download Link: http://insistnet.com/index.php?option=com_filecabinet&view=files&id=1&Itemid=6 MENGAPA BUKU INI PENTING? Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh. Pembaca yang dirahmati Allah... Buku PENDIDIKAN ISLAM: MEMBANGUN MANUSIA BERKARAKTER DAN BERADAB, merupakan panduan dalam memahami tujuan dan sifat pendidikan Islam. Buku ini bukan hanya ditujukan untuk para ulama, pejabat, dosen, mahasiswa, guru, dan murid, tetapi juga penting untuk setiap orang tua. Banyak yang kadang salah paham, bahwa pendidikan Islam, terbatas pada pendidikan formal sekolah. Banyak pula yang salah paham, seolah-olah, tanggung jawab orang tua telah usai, setelah mengirimkan anak-anaknya ke sekolah-sekolah tertentu, yang berbiaya tinggi. Padahal, tanggung jawab pendidikan anak tetap pada orang tua. PENDIDIKAN ISLAM bukan hanya harus mampu membentuk karakter yang unggul, tetapi juga membentuk manusia beradab; atau membentuk manusia yang baik (good man). Yakni, manusia yang mengenal Tuhannya, mengenal dan mencintai utusan Allah, mengenal dan mampu megembangkan potensinya, dan meyakini satu kebenaran. |
|
Selanjutnya...
|
|
Sabar Membebaskan al-Aqsa |
|
|
|
SAAT dunia menyaksikan kejahatan dan kedegilan Israel terhadap relawan Gaza, banyak SMS yang sampai pada saya: ”Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan Israel”. Ketika saya jawab, ”Minimal kita berdoa,” dia bertanya lagi, ”Apa hanya doa saja?” Pertanyaan-pertanyaan semacam itu sering muncul dalam benak umat Islam –bahkan umat manusia di berbagai belahan dunia -- saat kita menyaksikan begitu biadabnya Israel menindas bangsa Palestina.
Kita sangat bersyukur ada sebagian kaum muslim yang tergabung dalam relawan Gaza yang dengan sangat kreatif dan berani melakukan terobosan besar dalam menunjukkan kepada dunia, betapa biadabnya kaum Zionis Yahudi. Upaya-upaya seperti ini terbukti sangat efektif. Para relawan itu melakukan perjuangan dengan cerdas dan berani. Mereka juga bersedia mempertaruhkan dirinya demi sebuah cita-cita mulia, membantu perjuangan saudara-saudara kita di Palestina.
Namun, kita sadar, bahwa masalah Palestina bukan soal kecil. Ini masalah besar. Yang sedang kita hadapi adalah bangsa Yahudi, sebuah bangsa yang telah terkenal dengan kecerdikan dan kejahatannya dalam sejarah. Bangsa ini juga begitu banyak disebutkan dalam al-Quran, khususnya tentang kejahatan-kejahatan dan watak degil mereka dalam sejarah. |
|
Selanjutnya...
|
|